Kelainan dan Penyakit pada Sistem Ekskresi. Jumat, 07 Agustus 2015. Kelainan dan Penyakit pada Sistem Ekskresi 20.40 Penyebabpenyakit ini adalah adanya gangguan pada interaksi hormon yang menyebabkan infertilitas, impotensi, dan tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganan penyakit hipogonadisme adalah dengan terapi hormon. 9. Gonore. Penyakit gonore atau yang biasa disebut kencing nanah disebabkan oleh bakteri. Salahsatu akibat kelainan pada sistem hormon ialah penyakit autoimun, penyakit yang satu ini seringkali dialami kaum wanita daripada pria. Pada sebagian besar kasus yang ada, penyakit ini terjadi pada mereka yang berusia antara 20 hingga 40 tahun. Penyakit autoimun ini memang seringkali berkaitan dengan masalah hormonal, khususnya hormon estrogen. Kelainankongenital adalah kelainan dalam pertumbuhan janin yang terjadi sejak konsepsi dan selama dalam kandungan. Diperkirakan 10-20% dari kematian janin dalam kandungan dan kematian neonatal disebabkan oleh kelainan kongenital. Khusunya pada bayi berat badan rendah diperkirakan kira-kiraa 20% diantaranya meninggal karena kelainan kongenital Sebutkanlima belas kelainan atau Penyakit pada sistem ekskresi? Berikut adalah 15 (lima belas) jenis kelainan atau penyakit pada sistem ekskresi. Sistitis yaitu peradangan pada saluran kantong seni akibat infeksi; Jerawat itu gangguan kronis pada kelenjar minyak yang umum terjadi pada remaja; Eksem yaitu penyakit ekskresi pada kulit yang contoh mengisi surat lamaran kerja beli di fotocopy. Sistem hormon adalah sistem yang terdiri dari beragam organ dan kelenjar yang berperan dalam memproduksi hormon. Hormon-hormon tersebut bertugas untuk mengatur berbagai fungsi organ tubuh. Ketika sistem ini terganggu, kinerja sistem organ tertentu akan bermasalah dan menimbulkan sejumlah penyakit. Kelenjar tubuh manusia terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kelenjar endokrin dan kelenjar eksokrin. Kelenjar endokrin adalah jenis kelenjar yang bertugas untuk memproduksi berbagai jenis hormon, sedangkan kelenjar eksokrin bertugas untuk menghasilkan cairan tubuh yang bukan hormon, seperti keringat, air mata, ASI, dan air liur. Fungsi Sistem Hormon Berdasarkan Organnya Sistem hormon di dalam tubuh melibatkan banyak organ dan kelenjar. Masing-masing organ dan kelenjar tersebut menghasilkan hormon yang berbeda-beda dengan fungsinya tersendiri. Berikut ini adalah beberapa jenis organ dan kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan hormon 1. Kelenjar pituitari Kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis yang terletak di bagian dasar otak ini dijuluki sebagai the master gland. Kelenjar ini berperan dalam memproduksi hormon yang bertugas untuk mengatur fungsi berbagai organ dan kelenjar lain, seperti kelenjar tiroid, organ reproduksi, dan kelenjar adrenal. Kelenjar pituitari memiliki tugas untuk menghasilkan beberapa hormon berikut ini Hormon TSH, yaitu hormon yang bertugas untuk menghasilkan hormon tiroid Hormon pertumbuhan, yaitu hormon yang bertugas untuk mengatur laju pertumbuhan tubuh Hormon FSH, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur ovulasi atau masa subur wanita Hormon ACTH, yaitu hormon yang berfungsi untuk menghasilkan hormon stres dan merangsang kinerja kelenjar adrenal Hormon prolaktin, yaitu hormon yang mengatur produksi ASI pada ibu menyusui Hormon perangsang beta-melanosit, yaitu hormon yang meningkatkan pigmentasi kulit ketika terpapar radiasi sinar ultraviolet Hormon enkephalin dan endorfin, yaitu hormon yang berperan dalam mengendalikan rasa sakit dan menimbulkan perasaan gembira Jika kelenjar pituitari mengalami gangguan, misalnya akibat tumor hipofisis, cedera kepala berat, penyakit Cushing, dan cedera kepala berat, maka berbagai sistem organ tubuh juga akan terganggu. Gangguan pada kelenjar pituitari dapat menimbulkan gejala berupa sakit kepala, tekanan darah meningkat, sulit tidur, tubuh terasa lemas, gangguan suasana hati, sulit memperoleh keturunan infertilitas, gangguan libido atau hasrat seksual, serta produksi ASI kurang lancar. 2. Kelenjar hipotalamus Hipotalamus juga terletak di dasar otak, berdekatan dengan kelenjar hipofisis. Salah satu tugas kelenjar hipotalamus adalah memberikan instruksi kepada kelenjar hipofisis kapan harus melepas hormon yang diproduksinya. Selain itu, kelenjar hipotalamus juga memproduksi sejumlah hormon yang bertugas mengatur suhu dan kadar air dalam tubuh. Kelenjar ini pun berperan dalam menghasilkan hormon oksitosin yang bertugas untuk merangsang kontraksi rahim menjelang persalinan, mengendalikan emosi dan libido, serta memelihara kesehatan sistem reproduksi. Gangguan pada kelenjar hipotalamus dapat menyebabkan sejumlah penyakit, di antaranya hipopituitarisme dan diabetes insipidus. Penyakit-penyakit tersebut dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti Penurunan berat badan Penurunan nafsu makan Peningkatan atau penurunan tekanan darah Sering buang air kecil Sulit tidur Gangguan tumbuh kembang Pubertas terlambat Infertilitas 3. Kelenjar adrenal Kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal ini bertugas untuk menghasilkan beberapa jenis hormon, antara lain hormon androgen, aldosterone, adrenalin, dan noradrenalin. Fungsi dari hormon-hormon tersebut adalah mengendalikan tekanan darah serta kadar elektrolit dan gula darah dalam tubuh. Tak hanya itu, kelenjar ini juga memproduksi hormon kortisol juga berperan dalam siklus bangun dan tidur Anda. Kelenjar adrenal dapat terkena beberapa penyakit, misalnya penyakit Addison, penyakit Cushing, feokromositoma, dan tumor kelenjar adrenal. Gangguan pada kelenjar adrenal dapat menimbulkan sejumlah gejala, yaitu pusing, tubuh terasa lemas, mual dan muntah, mudah berkeringat, tekanan darah menurun, menstruasi tidak teratur, penurunan berat badan, muncul bercak hitam di kulit, serta nyeri otot dan sendi. 4. Kelenjar tiroid Kelenjar tiroid berbentuk seperti kupu-kupu dan berada di dalam leher. Kelenjar ini berfungsi untuk memproduksi hormon tiroid. Hormon ini berperan penting dalam mengatur metabolisme serta pertumbuhan dan kinerja berbagai organ tubuh. Sistem hormon bisa terganggu jika kelenjar tiroid terlalu banyak atau justru sedikit. Ketika hormon tiroid di dalam tubuh terlalu banyak atau aktif hipertiroidisme, tubuh dapat mengalami beberapa gejala berikut ini Detak jantung cepat atau berdebar-debar Gemetaran atau tremor Mudah berkeringat Tidak tahan dengan suhu panas. Susah tidur Mudah lelah Rambut dan kuku rapuh Berat badan menurun Gangguan psikologis, seperti rasa cemas, gugup, dan mudah marah Sebaliknya, hormon tiroid yang terlalu rendah atau hipotiroidisme dapat menimbulkan beberapa gejala, antara lain Tubuh lemas Sering mengantuk Kulit kering Sensitif terhadap udara dingin Susah konsentrasi Kesemutan atau mati rasa di bagian tubuh tertentu Berat badan meningkat Irama jantung lambat 5. Kelenjar paratiroid Kelenjar paratiroid yang terletak di dekat kelenjar tiroid ini bertugas untuk memproduksi hormon paratiroid, yaitu hormon pengatur keseimbangan kalsium di dalam tubuh. Kelenjar ini berperan besar terhadap kesehatan dan perkembangan organ-organ yang membutuhkan kalsium, seperti tulang, gigi, pembuluh darah, jantung, dan otot. Gangguan pada kelenjar paratiroid sering kali tidak bergejala. Namun, sebagian orang yang memiliki gangguan kelenjar paratiroid dapat merasakan keluhan nyeri atau kram otot, kesemutan, mual, nyeri ulu hati, tubuh lemas, dan sering haus. Jika tidak ditangani dengan tepat, gangguan kelenjar paratiroid dapat memicu munculnya masalah kesehatan serius, seperti osteoporosis, tekanan darah tinggi, batu ginjal, dan penyakit jantung. 6. Kelenjar timus Kelenjar timus merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang terletak di belakang tulang dada. Salah satu fungsinya adalah memproduksi sel darah putih yang disebut limfosit T. Sel ini bertugas untuk melawan bakteri dan virus penyebab penyakit serta mencegah pertumbuhan sel kanker. Kinerja sel limfosit T ini diatur oleh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar timus, yaitu thymosin, thymopoietin, thymulin, dan thymic humoral factor. Walau jarang terjadi, kelenjar timus dapat mengalami beberapa penyakit, seperti tumor kelenjar timus, sindrom DiGeorge, dan kista timus. Penyakit-penyakt tersebut dapat menimbulkan gejala sesak napas, nyeri dada, batuk darah, sulit menelan, berkurangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan. 7. Kelenjar pineal Kelenjar pineal memiliki bentuk menyerupai kacang dan terletak di bagian tengah otak. Salah satu fungsinya adalah memproduksi hormon melatonin, yaitu hormon yang mengendalikan siklus tidur. Jika Anda mengalami gangguan tidur, misalnya insomnia, bisa jadi itu tanda adanya masalah pada kelenjar pineal Anda. Segera periksakan diri ke dokter agar segera mendapat penanganan. 8. Pankreas Pankreas memiliki 2 peran utama, yaitu menghasilkan enzim yang membantu tubuh mencerna makanan, serta memproduksi hormon insulin dan glukagon yang bertugas untuk mengendalikan kadar gula darah. Salah satu penyakit yang sering menyerang pankreas adalah pankreatitis, yaitu peradangan pada pankreas. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba selama beberapa hari pankreatitis akut, namun dapat juga terjadi terus-menerus hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya pankreatitis kronis. Pankreatitis akut dapat dikenali dari munculnya gejala berupa nyeri perut bagian atas yang semakin parah setelah makan, demam, denyut nadi cepat, mual, serta muntah. Sedangkan pankreatitis kronis biasanya menimbulkan gejala berupa nyeri perut bagian atas, berat badan menurun tanpa alasan jelas, serta tinja berminyak dan berbau menyengat. 9. Organ reproduksi Organ reproduksi pria dan wanita masing-masing menghasilkan hormon yang berbeda-beda. Salah satu kelenjar pada organ reproduksi wanita adalah ovarium. Organ ini bertugas untuk melepaskan sel telur serta menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut memengaruhi perubahan fisik wanita saat menginjak masa pubertas, mengatur siklus menstruasi dan masa subur, dan menunjang proses kehamilan. Gangguan ovarium yang sering dialami wania berusia subur adalah sindrom ovarium polikistik PCOS. Kondisi ini dapat dikenali dengan munculnya gejala Siklus menstruasi tidak normal Perdarahan hebat dari vagina Tumbuh rambut di wajah, punggung, perut, dan dada Kulit terlihat lebih berminyak dan rentan berjerawat Berat badan meningkat Rambut rontok dan menipis Muncul bercak hitam di lipatan tubuh, seperti leher, pangkal paha, dan lipatan payudara Organ reproduksi pada pria yang berperan penting dalam menghasilkan hormon adalah testis. Kelenjar yang terletak di dalam kantung zakar skrotum ini tak hanya memproduksi sperma, tapi juga hormon testosteron. Ketika remaja pria meranjak dewasa puber, hormon inilah yang berperan dalam menunjang pertumbuhan penis, rambut kemaluan, tinggi badan, kekuatan otot dan tulang, serta perubahan suara. Gejala yang dapat muncul ketika testis mengalami gangguan sangat beragam, tergantung jenis gangguan yang terjadi pada testis. Pada orang dewasa, gangguan pada testis dapat menyebabkan menurunnya hasrat seksual, disfungsi ereksi, dan suasana hati yang mudah berganti. Sedangkan gangguan testis pada anak-anak dapat dikenali dengan pubertas terlalu dini, yaitu sebelum usia 9 tahun. Untuk menjaga agar sistem hormon tubuh berfungsi dengan baik, Anda perlu menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menghindari rokok dan minuman beralkohol, serta rajin berolahraga. Selain itu, Anda juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter agar fungsi sistem hormon dapat dievaluasi secara berkala. Jika terdapat gangguan pada sistem hormon, dokter akan memberikan pengobatan agar kondisi tersebut dapat ditangani dengan baik. Gangguan hormon terjadi ketika kelenjar penghasil hormon di dalam tubuh terganggu. Kondisi ini membuat jumlah hormon yang dihasilkan kurang atau justru terlalu banyak, sehingga fungsi organ tubuh tertentu terganggu dan muncul berbagai masalah kesehatan. Gangguan hormon dalam tubuh berpotensi menimbulkan sejumlah penyakit, tergantung hormon atau kelenjar apa yang mengalami gangguan. Misalnya, jika gangguan terjadi pada kelenjar adrenal, Anda bisa mengalami masalah pada tekanan darah, metabolisme, dan fungsi ginjal. Penyakit yang Mungkin Terjadi Akibat Gangguan Hormon Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit yang umum terjadi karena pengaruh gangguan hormon 1. Sindrom Cushing Kondisi ini terjadi karena kelenjar pituitari terlalu aktif sehingga menyebabkan tubuh terlalu banyak menghasilkan hormon kortisol. Sindrom Cushing bisa disebabkan oleh efek samping obat kortikosteroid dosis tinggi atau jangka panjang, faktor genetik, hingga tumor pada kelenjar pituitari atau kelenjar adrenal. 2. Hipopituitarisme Kondisi ini terjadi ketika kelenjar pituitari tidak mampu memproduksi hormon dengan jumlah yang memadai, sehingga penderitanya mengalami kekurangan hormon. Kekurangan hormon yang dihasilkan kelenjar pitutiari dapat menimbulkan masalah kesehatan yang beragam. Pada anak, hipopituitarisme dapat menyebabkan gangguan perkembangan. Sedangkan pada orang dewasa, kondisi ini berpotensi menyebabkan kemandulan atau infertilitas. 3. Penyakit Addison Penyakit Addison disebabkan oleh berkurangnya hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Penyakit ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami beberapa gejala seperti sering kelelahan, mual dan muntah, perubahan warna kulit, tidak tahan terhadap suhu dingin, serta penurunan nafsu makan. 4. PCOS Sindrom Ovarium Polikistik Penyakit ini terjadi ketika fungsi ovarium atau indung telur terganggu dan menyebabkan jumlah hormon di dalam tubuh wanita menjadi tidak seimbang. PCOS merupakan salah satu faktor penyebab kemandulan pada wanita. Penyebab penyakit PCOS belum diketahui secara pasti, namun penyakit ini diduga dapat disebabkan oleh faktor genetik atau kondisi tertentu, seperti kelebihan hormon androgen dan insulin. 5. Gigantisme Penyakit ini umumnya terjadi pada anak-anak. Kondisi gigantisme merupakan penyakit akibat gangguan hormon ketika tubuh anak menghasilkan hormon pertumbuhan secara berlebihan. Kondisi gigantisme membuat anak yang mengalaminya memiliki tinggi badan dan berat badan di atas rata-rata. 6. Hipertiroidisme Hipertiroidisme terjadi ketika kadar hormon tiroksin atau tiroid yang dihasilkan kelenjar tiroid di dalam tubuh sangat tinggi. Hipertiroidisme lebih sering terjadi pada wanita, namun kondisi ini juga bisa dialami pria. Gangguan pada hormon ini akan menyebabkan proses metabolisme tubuh terganggu, penurunan berat badan, gangguan cemas, hingga detak jantung menjadi lebih cepat atau dada berdebar-debar. 7. Hipotiroidisme Hipotiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar tiroid terganggu dan tidak bisa menghasilkan cukup hormon. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala berupa tubuh mudah lemas, sembelit, tidak tahan terhadap suhu dingin, sering mengantuk, dan kulit kering. Pada anak-anak, hipotiroidisme dapat menghambat tumbuh kembang mereka. Masih ada beragam penyakit dan kondisi lain yang berkaitan dengan terjadinya gangguan hormon dalam tubuh, sehingga perlu serangkaian pemeriksaan yang seksama untuk bisa menentukan penyakit yang mendasari munculnya gangguan hormon tersebut. Langkah Pemeriksaan dan Penanganan Gangguan Hormon Gangguan hormon merupakan masalah kesehatan yang perlu diperiksa dan ditangani oleh dokter. Untuk mendeteksi gangguan hormon, dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan yang terdiri dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urine, dan pemeriksaan radiologis seperti foto Rontgen, CT Scan, USG, atau MRI. Setelah jenis hormon yang bermasalah dan penyebabnya teridentifikasi, dokter akan memberikan pengobatan sesuai dengan jenis gangguan hormon yang dialami penderita. Misalnya, pada kasus hipertiroidisme, dokter dapat memberikan obat-obatan untuk mengurangi jumlah hormon tiroid, radioterapi, atau operasi tiroid. Sementara itu, jika gangguan hormon disebabkan oleh tumor, dokter dapat melakukan operasi untuk mengangkat tumor tersebut. Gangguan hormon tidak boleh dianggap remeh. Jika Anda mengalami gejala-gejala gangguan hormon, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Soal Uji Kompetensi Buku Biologi untuk SMA/MA Kelas XI Penerbit Erlangga Halaman 395-399 Soal Kelainan penyakit sistem hormon dan penyebab yang paling benar, adalah.... A. gondok disebabkan oleh hiposekresi aldostreron B. gigantisme disebabkan oleh hipersekresi C. akromegali disebabkan oleh hipersekresi somatotropin D. diabetes mellitus disebabkan oleh hipersekresi adrenalin E. Addison disebabkan oleh hiporsekresi insulin Jawaban B. gigantisme disebabkan oleh hipersekresi Pembahasan Gigantisme, akibat kelebihan hipersekresiGH selama remaja sebelum penutupan cakram epifisis yang menyebabkan pertumbuhan tulang panjang berlebihan. Halodoc, Jakarta - Sistem endokrin memiliki fungsi utama untuk menghasilkan hormon, suatu sinyal kimia yang dikeluarkan melalui aliran darah. Adanya hormon membantu tubuh untuk menyelaraskan dan mengatur berbagai fungsinya, termasuk pernapasan, nafsu makan, keseimbangan cairan, berat badan, hingga masalah pertumbuhan. Gangguan sistem endokrin terjadi ketika ada masalah pada jaringan sistem endokrin ini. Penyebabnya bisa karena ketidakseimbangan hormon, sehingga kelenjar hanya menghasilkan sedikit hormon atau terlalu banyak. Bisa juga karena muncul luka akibat tumor atau bintil yang menyerang sistem endokrin, sehingga memengaruhi kadar hormon, tetapi bisa juga tidak berpengaruh. Penyakit yang Memicu Gangguan Sistem Endokrin Ternyata, ada beberapa penyakit yang memicu terjadinya gangguan sistem endokrin. Setiap penyakit yang berpengaruh tentu menimbulkan gejala yang berbeda. Lalu, apa saja jenis penyakit tersebut? Diabetes Ini adalah gangguan sistem endokrin yang paling sering ditemui. Diabetes melitus terjadi karena pankreas tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup, tetapi bisa juga karena tubuh tidak mampu menggunakan insulin tersebut dengan optimal. Gejala dari kelainan ini termasuk mual dan muntah, merasa lapar dan haus berlebihan, sering buang air kecil tubuh mudah lelah, berubahnya penglihatan, dan berat badan yang naik atau turun tanpa alasan yang jelas. Baca juga Cegah Gangguan Sistem Endokrin dengan 6 Cara Ini Akromegali Akromegali terjadi ketika kelenjar pituitari membuat hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebihan. Tentu saja, akibatnya adalah pertumbuhan yang tidak terkendali, terutama pada bagian tangan dan kaki. Gejalanya termasuk nyeri pada sendi dan tubuh, sakit kepala, tubuh lemah dan lelah, perubahan pada struktur muka, masalah penglihatan, gangguan tidur, disfungsi seksual, dan pertumbuhan kartilago dan tulang, serta penebalan kulit yang berlebihan. Penyakit Addison Penyakit Addison terjadi karena penurunan produksi aldosteron dan kortisol karena kelenjar adrenal mengalami kerusakan. Gejalanya termasuk depresi, diare, tekanan darah rendah, selalu ingin mengonsumsi garam, berat badan menurun, hiperpigmentasi pada kulit, hipoglikemia, terlewatnya periode menstruasi pada wanita, mual yang bisa disertai muntah atau tidak, dan tubuh lemah dan lelah. Tentu saja, kelainan yang satu dengan yang lainnya mungkin memiliki gejala yang mirip, terlebih tubuh yang mudah lelah dan lemah. Oleh karena itu, kamu tidak boleh menyepelekannya, dan segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan. Buat janji saja dengan dokter melalui aplikasi Halodoc di rumah sakit terdekat sehingga penanganan bisa kamu dapatkan lebih cepat. Baca juga Waspada, Ini 6 Komplikasi Gangguan Sistem Endokrin Sindrom Cushing Sindrom ini terjadi karena produksi kortisol yang berlebihan yang turut dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Gejalanya berupa haus berkepanjangan, sering buang air kecil, hiperglikemia, hipertensi, osteoporosis, perubahan mood yang signifikan, tubuh lemah dan lelah, wajah berubah menjadi bundar, dan obesitas yang menyerang bagian tubuh atas saja. Penyakit Graves Kelainan ini termasuk jenis hipertiroidisme yang berpengaruh pada produksi hormon tiroid. Gejala penyakit graves termasuk mata yang menonjol, diare, perubahan suasana hati yang cepat, mudah marah, tremor, terjadi penurunan berat badan, detak jantung berdebar dan tidak teratur, pembesaran pada kelenjar tiroid, intoleran terhadap panas, dan kulit yang mengalami penebalan dan perubahan warna pada area betis. Baca juga Sistem Endokrin Alami Gangguan, Ini Dua Penyebabnya Jika mengalami salah satu dari gejala penyakit di atas, jangan biarkan dan segera tangani ke dokter agar mendapatkan pengobatan yang tepat. Referensi WebMD. Diakses pada 2019. Endocrine Disorders. Health Grades. Diakses pada 2019. Endocrine Disorders. Livescience. Diakses pada 2019. Endocrine System Facts, Function, and Diseases. - Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang memproduksi dan melepaskan hormon pengontrol sejumlah fungsi tubuh. Melansir NIH, sistem endokrin terdiri atas kelenjar adrenal, hipotalamus, ovarium, pankreas, paratiroid, kelenjar pineal, kelenjar hipofisis, testis, timus, sampai tiroid. Fungsi sistem ini turut memengaruhi tumbuh kembang, metabolisme, fungsi seksual, sampai suasana juga 10 Jenis Penyakit yang Menyerang Kelenjar Tiroid Kadar hormon yang terlalu tinggi atau terlalu rendah pada salah satu kelenjar di atas dapat memicu penyakit atau gangguan sistem endokrin. Selain itu, penyakit dan gangguan endokrin juga bisa terjadi ketika tubuh tidak dapat merespons hormon secara beberapa jenis penyakit atau gangguan sistem endokrin yang perlu diwaspadai 1. Diabetes mellitus Melansir Healthgrades, jenis penyakit atau gangguan sistem endokrin yang paling umum adalah diabetes mellitus. Penyakit ini terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan hormon insulin yang cukup, atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan baik. Gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang umum yakni rasa haus atau lapar berlebihan, mudah lelah, sering kencing, mual dan muntah, berat badan naik atau turun tanpa sebab jelas, dan gangguan penglihatan. 2. Penyakit addison Melansir WebMD, gangguan kelenjar endokrin dapat mengganggu fungsi kelenjar adrenal, salah satunya memicu penyakit addison.

kelainan penyakit sistem hormon dan penyebabnya yang paling benar adalah